KATA-KATA YANG MEMBERIKAN KESEMPATAN
Dipublikasikan pada 23 Maret 2025
3 min baca

Bacaan: Lukas 13:1-9

Ada banyak orang yang bisa mengucapkan kata-kata yang terdengar empatik dan menghibur, yang menunjukkan kepedulian dan penerimaan atas kesalahan, kegagalan dan ketidakmampuan orang lain. Biasanya orang-orang seperti ini akan memiliki banyak teman dan kenalan. Tetapi, ada juga orang-orang yang tak bisa selalu mengucapkan kata-kata yang menyenangkan, karena ia memilih untuk mengatakan kebenaran walaupun pahit dan sakit. Orang ini akan dijauhi teman-teman yang palsu, yang hanya mau mendengarkan apa yang mereka inginkan saja.

Dalam kesaksian Injil Lukas 13:1-9, ditunjukkan kepada kita bagaimana perbedaan kata-kata yang hanya terdengar empatik dan kata-kata yang benar-benar memberikan kesempatan.

Pertama, beberapa orang datang pada Tuhan Yesus membawa kabar peristiwa tragis dari orang-orang Galilea, daerah asal Tuhan Yesus. Apa yang mereka harapkan ketika menyampaikan berita itu pada Tuhan? Apakah mereka ingin Tuhan Yesus makin membenci Pilatus dan segera mengambil alih takhta Daud? Apakah mereka kira Tuhan Yesus akan menghakimi para korban dan memuji orang-orang yang selamat sebagai orang yang benar dan diberkati? Apakah para pembawa kabar ini berharap dipuji karena mereka menunjukkan keprihatinan mereka pada saudara-saudaranya yang mengalami ketidakadilan? Ternyata bukan itu respons yang mereka terima. Tuhan Yesus justru dengan keras memperingatkan bahwa mereka tidak boleh hanya menggunjingkan derita dan kematian orang lain. Mereka yang melihat dan mendengar hal itu justru harus makin teguh untuk bertobat.

Kedua, dalam perumpamaan pohon Ara yang tidak berbuah 3 tahun, Tuhan Yesus menggambarkan Allah sangat keras, bahkan terdengar kasar, memerintahkan menebang pohon itu. Tetapi, ketika pekerja kebun anggur itu menjawab Tuhan, maka kita dapat mengetahui bahwa sang pekerja kebun itu juga belum melakukan apa-apa, hanya membiarkan pohon Ara tumbuh begitu saja. Sang Pemilik pohon tampak keras, tetapi sebenarnya ia masih memberi kesempatan, baik pada pohon Ara maupun si pekerja kebun, untuk menghasilkan buah pertobatan.

Sebagai umat yang percaya pada kesempatan yang diberikan Tuhan, marilah kita tidak hanya merespons dengan kata-kata yang kosong saja, janganlah mengabaikan upaya dan kerja yang sungguh untuk bertobat. Tuhan tidak membiarkan kita terlena menikmati anugerah waktu, kekuatan, berkat ini-itu, kemudahan sana-sini, perlindungan dan penyertaan lalu mengira kita sudah pantas menerima itu karena sudah hidup benar dan sudah menyenangkan Tuhan. Tuhan tegas dan jelas meminta kita bertobat, karena Ia sungguh-sungguh mengasihi kita, tidak ingin kita binasa. Tuhan masih memberi waktu, Tuhan masih menunggu, maka segeralah bertobat dan berbuah.

Pdt. Erlinda Suryani Zebua

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
6 Orang Membaca